Mengikuti Arus atau Menciptakan Arus?

Terkadang kita berada di sebuah kondisi di mana kita dihadapkan kepada dua pilihan yang sama-sama sulit. Terkadang, arus yang ada di sekitar kita jauh dari apa yang kita anggap ideal. Mengikuti arus bukanlah hal yang mudah, karena terkadang itu semua tidak sejalan dengan keinginan yang ada di hati. Namun, menciptakan arus, jelas jauh lebih sulit ketimbang pasrah.

Pilihan, tidak pernah mudah. Seandainya pilihan datang tanpa konsekuensi yang mengikuti, mungkin, semuanya akan terasa lebih ringan. Namun bukan itu makna dari sebuah pilihan. Sebuah pilihan memiliki harga yang harus dibayarkan. Desember tahun 2012, saya dipercaya untuk mengemban amanah sebagai pemimpin Persatuan Pelajar Indonesia di Universiti Malaya (PPI-UM), sampai sekarang, masih banyak yang mempertanyakan alasan kenapa saya berani maju dan memilih untuk mengambil risiko. Bukan, bukan karena saya ingin dipandang. Saya tidak peduli akan popularitas. Saya bekerja bukan untuk popularitas. Saya ingin menciptakan arus.

Continue reading

Advertisements

Mereka juga berhak!

Tulisan ini adalah mengenai anak-anak Indonesia yang karena sebuah kondisi mereka tidak bisa mendapatkan pendidikan formal yang layak. Secara hukum, mereka adalah anak-anak stateless, tidak berkewarganegaraan. Mereka adalah anak-anak TKI yang bekerja di Klang, Malaysia. Komplikasi dari permasalahan TKI di Malaysia memang sangat bervariasi dan ruwet. Anak-anak stateless ini adalah salah satunya. Terlepas dari kondisi mereka, saya percaya bahwa anak-anak di sana masih berhak akan pendidikan.

“Mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Berarti juga, anak-anak yang tidak terdidik di Republik ini adalah “dosa” setiap orang terdidik yang dimiliki di Republik ini. Anak-anak nusantara tidak berbeda. Mereka semua berpotensi. Mereka hanya dibedakan oleh keadaan.”

― Anies Baswedan, Indonesia Mengajar

Saya rasa kebanyakan dari kita setuju akan pentingnya sebuah pendidikan. Bahkan ini merupakan salah satu cita-cita Indonesia yang tertera di pembukaan UUD ’45. Negara Kesatuan Republik Indonesia ini terbentuk di atas mimpi-mimpi kolektif. Dan salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Saya sendiri percaya, bahwa idealnya pendidikan itu bukan privilege atau hak istimewa yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu. Pendidikan itu hak dasar setiap anak bangsa. Dan Bapak Anies Baswedan pun berpendapat bahwa mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Kita kah itu?

Untuk memenuhi hak akan pendidikan bagi anak-anak stateless ini, Kedutaan Besar Republik Indonesia Kuala Lumpur telah berupaya untuk menanggulangi permasalahan ini, Pusat Pendidikan Warganegara Indonesia Insan Malindo telah dibangun untuk memberikan pendidikan untuk anak-anak ini. Namun, tersangkut permasalah hukum dan sebagainya, pendidikan yang diberikan adalah pendidikan non-formal. Output dari PPWI Insan Malindo ini yaitu anak-anak yang dibimbing akan diikuti ujian Paket A untuk kesetaraan ijazah. 

Sebagai mahasiswa, saya merasa memiliki tanggung jawab intelektual. Dorongan untuk berbagi. Saya sendiri adalah salah satu guru volunteer yang secara berkala datang ke PPWI yang terletak di Klang, Malaysia, untuk sekedar mengajar dan berbagi cerita kepada puluhan anak di PPWI. Hal ini sudah berlangsung selama setahun lebih bagi saya sendiri. Dimulai dari semester lalu, saya dibantu dengan teman-teman dari PPI-UM, berinisiatif untuk mengumpulkan bahan-bahan bacaan yang sesuai untuk anak-anak seumuran SD kelas 1 – 5. Menurut saya, buku adalah media pengembangan yang penting. Pendidikan tidak bisa terlepas dari buku. Bisa dibayangkan senyum bahagia yang terukir di wajah mereka kalau banyak buku bacaan berkualitas yang bisa mereka akses setiap harinya. Dengan ini, saya mengajak kawan-kawan yang peduli untuk berbagi kepada adik-adik kita di PPWI Klang.

Adakah buku-buku yang kawan-kawan ingin donasikan? Saya akan sangat senang untuk menyalurkannya kepada adik-adik kita di PPWI Klang 🙂

Jika kawan-kawan tertarik untuk mendonasikan buku, silakan hubungi saya melalui email di : bintangpamungkas@live.com ataupun twitter : @binpamungkas

We Survived The (Hypothetical) Apocalypse, Can We Survive 2013?

Pertama, congratulation for all of us! Karena kita telah berhasil melewati kiamat yang katanya bakal kejadian 21 Desember 2012 yang lalu walau pada akhirnya memang gak kejadian. Mungkin ditunda untuk di update dulu atau direvisi, for all I know it is going to happen, God knows when.

Menyambut tahun yang baru, rasanya gak lengkap kalau gak ditambah dengan resolusi alias target yang ingin tercapai di tahun yang baru ini. Seperti tahun lalu, gw merumuskan 5 (empat dan satu resolusi tambahan) resolusi untuk dicapai di tahun 2012 yang lalu. Alhamdulillah, 3,5 dari 5 bisa tercapai.

A glimpse of 2012

Resolusi pertama gw di 2012 adalah untuk berhasil score GPA 3,50 atau lebih. Indikator resolusi ini jelas, ada di atas kertas. Alhamdulillah untuk satu semester resolusi itu tercapai, walau di semester genap tahun 2012 bisa dibilang resolusi ini jauh dari tercapai ha ha (pathetically laughing).

Resolusi kedua di 2012 adalah “Do much better in debate”. Resolusi yang ini mungkin agak gak jelas indikator tercapainya apa. Tapi let’s be generous ke diri sendiri, gw bisa bilang resolusi ini tercapai walaupun belum maksimal. Di 2012 ini gw lumayan puas jalan-jalan dibayarin kampus untuk ngewakilin tim debat di berbagai kompetisi tingkat nasional, regional maupun internasional. Walaupun belum berhasil nyumbang tropi ke kampus, tapi yang jelas ada perkembangan signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Resolusi ketiga adalah resolusi yang paling sulit dicapai menurut gw, yaitu “Read more books, at least one book per month”. Pada dasarnya kalau ada waktu luang gw lebih milih browsing internet daripada baca buku. It’s a bad habit, I know. Makanya tadinya gw naruh resolusi ini supaya jadi motivasi buat gw untuk baca buku lebih banyak. Tapi gw beli banyak buku kok tahun ini, tinggal di baca aja (Ngeles). Resolusi ketiga dinyatakan gatot!

Resolusi keempat? Resolusi paling menyenangkan dalam prosesnya. Form a band. Alhamdulillah kebentuk juga band di sini, yang isinya anak-anak Indonesia yang punya skill dahsyat (hiperbola). Saking bingungnya pertama kali manggung mau make nama apa, jadi lah namanya “The Broadband”, filosofinya sih karena influence musik tiap personelnya beda-beda, jadi genre nya broad gitu, lebar. Agak maksa sih, tapi ya bodo amat yang penting manggung. Seiring berjalannya waktu dan mencari nama yang lebih kece lagi, tercetus lah nama “The Asymmetry” yang diilhami oleh kumis Jaka yang gak simetris. The Asymmetry sukses manggung di 3 event, yang satu skala high school yang dua lagi skala kampus. Lumayan. And oh! The Asymmetry juga pernah share panggung sama The Azeanders, itu loh band local Indie yang vokalisnya mantan vokalis Bunkface itu. Resolusi keempat, berhasil!

Resolusi kelima alias resolusi bonus, naik gunung. Belum tercapai. Tapi planning masih ada, tahun ini pun kalau bisa mau naik gunung 😀

Moving on to 2013

Belajar dari 2013, gw rasa nulis resolusi itu selalu ngebantu untuk, at least, tau sejauh mana kita dari plan kita kalau kita melenceng. Resolusi bukan cuma untuk dicapai, tapi untuk keep track juga. Let’s rock 2013!

1. Score 4 flat in any of two semesters this year.

2. Memenuhi peran dan ekspektasi sebagai Ketua Umum PPI-UM 2012/2013. Kita adalah generasi inspirasi.

3. Being selected to go to WUDC, Chennai, India.

4. Selesai thesis tepat waktu dan dengan hasil yang memuaskan.

5. Naik gunung. Semoga kesampean deh ini rencana.

6. Makin aktif nulis di blog sendiri. Mungkin, 1 bulan 1 tulisan.

7. Khatam Al-Quran, lagi.

Sometimes it’s not about the output. Sometimes, it’s about the effort that we put in and the process that we experience that matter.

Ready, set, go!

 

Please Welcome : Gary Vaynerchuk!

So I stumbled upon this guy on an article in TechCrunch, I was astonished by the title of the article “Gary Vaynerchuk: “99.5 Percent Of Social Media Experts Are Clowns” (TCTV)”. In another second I found myself reading and watching the conversation between Gary Vaynerchuk and Josh Zelman. He was actually telling TechCrunch what is inside his new book, “The Thank You Economy”. I found that this guy actually has an interesting personality and way of thinking. Somehow, he inspires me.

After watching the interview, I decided to take a deeper look into this guy. I typed his name inside the Youtube search bar and found a lot of videos about him. This is the video I enjoyed the most.

I won’t try to describe him in this blog, I just want to share about this awesome guy I accidentally found on the internet. Further inspiration? Take a peek at his blog and his channel on Youtube, or even better, buy his books! I decided that I’m going to buy his first book, Crush it! 😀

Stop This Train

Stop this train I wanna get off and go home again, I can’t take the speed its moving in.

I know I can’t, but honestly, won’t someone stop this train?

So I steal some of my study time to post about the anxiety I have in my heart.

Sometimes, everyone feels like what John feels, including me, and my time is now.

Continue reading

3 Weeks in Malaysia

I’m home. Yes, Bogor, Jawa Barat, Indonesia once again. Setelah tanggal 18 September lalu gw berangkat ke Malaysia dan menjadi mahasiswa National University of Malaysia, kini gw di deportasi ke Indonesia. Kenapa? Karena alhamdulillah sujud syukur, gw diterima di University of Malaya. Dan berhubung kegiatan perkuliahan di universitas tertua di Malaysia ini dimulai pada bulan Desember untuk intake II, maka pihak CIMB selaku sponsor pun mendeportasi memulangkan gw dulu ke Indonesia untuk berliburan panjang diberangkatkan lagi pada bulan Desember.

Jadi, apa yang gw lakukan selama 3 minggu di Malaysia dengan visa turis yang belum sempat saya pindah ke visa pelajar? Pada hari kedua gw di Malaysia, gw plesir ke KL. Dan gw pun tertakjub dibarengi dengan gemetar di lutut ketika melihat Mall 10 lantai, dan lebih nganga lagi waktu liat ternyata itu mall ada map-nya kaya Dufan/Kebun Raya Bogor. -__- Tapi malangnya nasib mall itu, masa iya binder aja ga jual di satu toko pun. Usut punya usut, ternyata Binder adalah barang langka di Malaysia.

Binder, Berharga banget di Malaysia

Barang Langka

Bisa dipastikan binder adalah barang import.

 

Sudah cukup jalan-jalan setelah betis terasa bagai berkonde 3 tingkat, akhirnya kami mencari makan di luar, berkat saran dari saudaranya Aldi, kami terselamatkan dari harga food court mall itu.

Hari dan minggu pun berlalu.


Pada tanggal 7 Oktober yang lalu, kami menghadiri Dinner yang diadakan oleh CIMB Foundation untuk para scholar dari Batch 1 – Batch 3. Sebagai forum pertemuan dan berkenalan dengan Dato’ Shukri salah satu direksi CIMB Group, dan berbagai orang yang memiliki andil dalam berjalannya program Overseas Scholarship ini. Lengkapnya bisa dilihat di blog temen seperjuangan gw : Rizki Aldila.

Dan puncaknya, tanggal 9 Oktober, gw pulang deh ke Indonesia. Such a nice visits to Malaysia, except the immigration officer yang mukanya jutek padahal gw yakin kalau senyum aja ga cantik apalagi jutek. But overall, perjalanan yang menyenangkan dan membuka wawasan tentang Malaysia yang selama ini image bentukan media begitu jelek. Finally, let’s say, Alhamdulillahirabbil’alamin atas perjalanan berangkat dan pulangnya gw dan segala berkat dan rahmat Tuhan YME hingga gw punya kesempatan kuliah overseas in free of charge. 🙂