Matahari

Bukan ia menghilang.

Ia hanya bersembunyi dari pandangan.

Ia di sana, di balik keangkuhan malam.

Bersama pagi, ia menghadirkan lembutnya kehangatan.

Bersama senja, ia mengabarkan hadirnya gelap.

Melalui bulan, ia menghadirkan dirinya.

Ia, selalu di sana.

Dan aku, bersamanya.

Advertisements

Kamu

Kamu, seperti kata favorit yang selalu menjadi pembuka paragraf. Sesederhana itu.

Kamu, seperti nada favorit untuk menutup harmoni petikan gitar. Seindah itu.

Kamu, seperti titik di akhir kalimat. Mengingatkanku untuk berhenti sejenak.

Kamu, seperti catatan kecil di pojok lembar nostalgia. Mengukir senyum kecil.

Tuhan dan Kata

Aku ingin jadi Tuhan, menciptakan dunia dalam genggaman. Mengadakan yang tiada dan meniadakan yang ada. Menurutku, dengan kata, kita adalah Tuhan dalam tulisan kita sendiri. “Hidup ini tuh cuma permainan kata” ucap salah satu kawan dekatku. Perkataan yang nyeleneh tetapi sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih dalam dari apa yang terlihat.

Aku menemukan dunia di dalam 26 huruf ini.  Ketika mereka tersusun, menciptakan dan memperlihatkan apa yang ada di pikiranku. Ini adalah bentuk dari translasi pemikiran ke sesuatu yang “ada”.

Cogito, ergo sum. – Descrates

Aku berpikir, maka aku ada. Betulkah yang “mengadakan” kita hanyalah sebatas pemikiran? Adakah garis tipis yang memisahkan suatu eksistensi dari sebuah kenihilan adalah gelombang-gelombang yang dikirim dari sebongkah otak? Apakah penyebab keberadaan hanya terhenti sampai di situ?

Menulis. Bagiku, ini proses penciptaan dunia. Sakral. Menulis adalah mengubah konsep abstrak pemikiran terhadap suatu hal yang lebih nyata. Goresan tinta, goresan pensil di atas kertas, maupun hentakan jemari di atas keyboard. Proses “memberadakan” pemikiran. Menulis bukan sekedar pekerjaan sepuluh buah jari. Menulis adalah pekerjaan mata yang melihat, hati yang tergerak dan pikiran yang mengolah. Jari hanyalah wakil yang mengantarkan sinyal abstrak menjadi huruf-huruf yang siap dilahap oleh pembaca.

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

– Pramoedya Ananta Toer-

Kata, mungkin salah satu kekuataan yang paling hebat Continue reading

Saya, Toleransi dan Fanatisme

Tulisan ini berdasarkan pengamatan dan pemikiran penulis, dengan segala keterbatasan.

Saya adalah bangsa Indonesia yang bangga akan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya bernaung dengan rasa aman di bawah slogan suci yang dicengkram erat oleh sang Garuda di kakinya, “Bhinneka Tunggal Ika”. Mengerti, menginterpretasi, memahami slogan suci Bhinneka Tunggal Ika bukanlah hal yang mudah. Dengan lebih dari 17.000 pulau dan lebih dari 1000 suku bangsa dan paling tidak 6 Agama yang diakui oleh pemerintah, bukanlah hal yang mudah untuk merealisasikan kalimat yang begitu luhur itu.

Saya seorang muslim sejak lahir, dan itu seharusnya tidak mengurangi “kemusliman” saya. Saya masih belajar untuk memilih Islam sebagai jalan saya. Ini adalah jalan yang saya ambil, dengan restu Tuhan Yang Maha Esa.

Terlahir sebagai Muslim dan sebagai seorang bangsa Indonesia, seharusnya saya dan kebanyakan bangsa Indonesia sadar dan paham betul akan pentingnya toleransi di negeri yang sangat majemuk ini. Toleransi antar umat beragama, toleransi antar suku bangsa, toleransi atas pikiran yang berbeda. Semua ini sebenarnya sudah terangkum dalam kurikulum pendidikan dasar di Indonesia. Tapi kemanakah praktek dari teori-teori yang seharusnya sudah mendarah daging? Adakah kita tuli ataukah kita apatis? Ketika golongan yang membawa nama Islam bergerak anarkis. Bukankah harusnya kita malu? Bukankah Agama menginginkan sebuah perdamaian?

Kemanakah arti kalimat Bhinneka Tunggal Ika Continue reading

Please Welcome : Gary Vaynerchuk!

So I stumbled upon this guy on an article in TechCrunch, I was astonished by the title of the article “Gary Vaynerchuk: “99.5 Percent Of Social Media Experts Are Clowns” (TCTV)”. In another second I found myself reading and watching the conversation between Gary Vaynerchuk and Josh Zelman. He was actually telling TechCrunch what is inside his new book, “The Thank You Economy”. I found that this guy actually has an interesting personality and way of thinking. Somehow, he inspires me.

After watching the interview, I decided to take a deeper look into this guy. I typed his name inside the Youtube search bar and found a lot of videos about him. This is the video I enjoyed the most.

I won’t try to describe him in this blog, I just want to share about this awesome guy I accidentally found on the internet. Further inspiration? Take a peek at his blog and his channel on Youtube, or even better, buy his books! I decided that I’m going to buy his first book, Crush it! 😀

Kota Itu

Aroma jalanan aspal yang tersiram tetesan bening air hujan yang turun dari gumpalan awan yang melayang di langit kota itu tercium dengan jelas, belaian lembut angin meniup dedaunan jatuh jauh dari pohonnya, semua adalah pertanda bahwa kota itu baru diberi sebuah berkah kedamaian. Kota hujan, begitu orang menyebutnya. Bogor, Jawa Barat, Indonesia.

Aku memang tidaklah berasal kota itu, namun di sana lah aku belajar mengenai kehidupan, di sana aku mengecap pendidikan pertama ku, menganyom pendidikan menengah dan di sana pula lah aku menamatkan 3 tahun terindah, SMA. Di jalanannya, dapat kau dengar gelak tawa ku bersama karibku, di tanahnya tersimpan tetes air mataku Continue reading

Stop This Train

Stop this train I wanna get off and go home again, I can’t take the speed its moving in.

I know I can’t, but honestly, won’t someone stop this train?

So I steal some of my study time to post about the anxiety I have in my heart.

Sometimes, everyone feels like what John feels, including me, and my time is now.

Continue reading