Validation is For Parking

It is fascinating to observe how technology shapes culture, in both good and bad way. The simplest technology can drive people to a different way, spreading new norms to the society. In some cases, technology unveils human’s deepest and truest nature.

One most blatant example that we can observe is the fact that industrial age and the invention of steam engine has driven human’s greed even further. It has affected society and humanity substantially. But let’s save the more serious discussion for later.

Continue reading

Advertisements

On Being Grateful

Count your blessings, they said.

Looking back, I have been blessed with a lot of happiness. Surrounded by people who care, having access to free education, opportunity to start my career as soon as I graduate. And I don’t think I have been grateful enough.

It is the basic nature of human, to always seek out for more, wanting to have more, sometimes beyond our own capability. Finding contentment is never easy.

Mr. Arwin Rasyid, CEO of CIMB Niaga, once told me that to have an ambition is one thing, and to be an ambitious man is another thing. There is a fine line between having an ambition and being ambitious. Being ambitious, he further explained, is dangerous as one might never be satisfied with what one has. An insatiable hunger for success, for victory, will only lead us to unfulfilled and colorless life.

The ability to be grateful is underrated. It is arguably one of the most important traits one should possess in order to live a peaceful life.

On Moving Back to Indonesia

I have been living in Indonesia for most of my life, I was born, nurtured, grown up in a place that I recognized as a home. There are countless problems and reasons to hate living in the country, but I learned to live with it. I learned to embrace the imperfections the nation possesses.

Four years ago, I was given a chance to study in Malaysia on a scholarship by CIMB Foundation. That was my first overseas exposure. I was not surprised to see that Malaysia is doing pretty much better than Indonesia, in a lot of aspects. For example, better public transportation, train system, considerably faster escalator, faster pedestrians, and of course, widely-available and reasonably fast internet connection. I enjoyed it, I was glad for not having to live with all the “helter-skelter” that occur on daily basis in some of Indonesia’s major cities. Back in 2010, riding economic-class train in Indonesia during rush hour was awful.

But then I realized that I took it for granted. Now that I have to re-adapt myself to Indonesia, I found myself more of a grouch. I complained about how the pedestrian moves in slow-mo, I fuss about how the escalator is moving at unacceptable speed and the fact that people do not give space for the escalator-walker at the right side, and how Indonesian abuse their car/motorcycle horn (they just honk at everything they see, at any occasion). And please do not let me start on the internet connection.

 

Events after events, there is a slow-building realization that (in some aspects) Indonesia is not at par with Malaysia, let alone Singapore for that matter. It is not an act of pessimism, Indonesia is still doing pretty good despite its countless problems and never-ending drama of the elite politicians. Being outside the country for years, I have gained a bird-eye view of the nation. Apple to apple comparison now is, arguably, more objective.

There are some adjustments I need to make, re-adapting to a known environment might be more challenging compared to adapting to a whole new place. Most importantly, there are some improvements and betterment I need to witness and create in Indonesia. It is, after all, the responsibility of the conscious minds to shape the surroundings.

Mengikuti Arus atau Menciptakan Arus?

Terkadang kita berada di sebuah kondisi di mana kita dihadapkan kepada dua pilihan yang sama-sama sulit. Terkadang, arus yang ada di sekitar kita jauh dari apa yang kita anggap ideal. Mengikuti arus bukanlah hal yang mudah, karena terkadang itu semua tidak sejalan dengan keinginan yang ada di hati. Namun, menciptakan arus, jelas jauh lebih sulit ketimbang pasrah.

Pilihan, tidak pernah mudah. Seandainya pilihan datang tanpa konsekuensi yang mengikuti, mungkin, semuanya akan terasa lebih ringan. Namun bukan itu makna dari sebuah pilihan. Sebuah pilihan memiliki harga yang harus dibayarkan. Desember tahun 2012, saya dipercaya untuk mengemban amanah sebagai pemimpin Persatuan Pelajar Indonesia di Universiti Malaya (PPI-UM), sampai sekarang, masih banyak yang mempertanyakan alasan kenapa saya berani maju dan memilih untuk mengambil risiko. Bukan, bukan karena saya ingin dipandang. Saya tidak peduli akan popularitas. Saya bekerja bukan untuk popularitas. Saya ingin menciptakan arus.

Continue reading

This, too, shall pass.

So I was struck by the phrase “this too shall pass” sang by Bono (U2) in David Letterman’s Show. Well, it is actually not the original lyrics of “Stuck in A Moment”, it was an impromptu. And it was not my first time hearing/reading the phrase “this too shall pass”. But somehow, this time, I was fully aware of the meaning of the phrase and it hit me, quite hard.

To think of it, it is sadly true that everything, be it joy or struggle, is temporary. Nothing really is permanent. Any moment will end up in a box of memories. And probably it is up to us to decide, do we want to dwell over the pasts? Do we want to worry about the days that yet to come? Or we want to live for today?

Continue reading

Tuhan dan Kata

Aku ingin jadi Tuhan, menciptakan dunia dalam genggaman. Mengadakan yang tiada dan meniadakan yang ada. Menurutku, dengan kata, kita adalah Tuhan dalam tulisan kita sendiri. “Hidup ini tuh cuma permainan kata” ucap salah satu kawan dekatku. Perkataan yang nyeleneh tetapi sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih dalam dari apa yang terlihat.

Aku menemukan dunia di dalam 26 huruf ini.  Ketika mereka tersusun, menciptakan dan memperlihatkan apa yang ada di pikiranku. Ini adalah bentuk dari translasi pemikiran ke sesuatu yang “ada”.

Cogito, ergo sum. – Descrates

Aku berpikir, maka aku ada. Betulkah yang “mengadakan” kita hanyalah sebatas pemikiran? Adakah garis tipis yang memisahkan suatu eksistensi dari sebuah kenihilan adalah gelombang-gelombang yang dikirim dari sebongkah otak? Apakah penyebab keberadaan hanya terhenti sampai di situ?

Menulis. Bagiku, ini proses penciptaan dunia. Sakral. Menulis adalah mengubah konsep abstrak pemikiran terhadap suatu hal yang lebih nyata. Goresan tinta, goresan pensil di atas kertas, maupun hentakan jemari di atas keyboard. Proses “memberadakan” pemikiran. Menulis bukan sekedar pekerjaan sepuluh buah jari. Menulis adalah pekerjaan mata yang melihat, hati yang tergerak dan pikiran yang mengolah. Jari hanyalah wakil yang mengantarkan sinyal abstrak menjadi huruf-huruf yang siap dilahap oleh pembaca.

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

– Pramoedya Ananta Toer-

Kata, mungkin salah satu kekuataan yang paling hebat Continue reading

Saya, Toleransi dan Fanatisme

Tulisan ini berdasarkan pengamatan dan pemikiran penulis, dengan segala keterbatasan.

Saya adalah bangsa Indonesia yang bangga akan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya bernaung dengan rasa aman di bawah slogan suci yang dicengkram erat oleh sang Garuda di kakinya, “Bhinneka Tunggal Ika”. Mengerti, menginterpretasi, memahami slogan suci Bhinneka Tunggal Ika bukanlah hal yang mudah. Dengan lebih dari 17.000 pulau dan lebih dari 1000 suku bangsa dan paling tidak 6 Agama yang diakui oleh pemerintah, bukanlah hal yang mudah untuk merealisasikan kalimat yang begitu luhur itu.

Saya seorang muslim sejak lahir, dan itu seharusnya tidak mengurangi “kemusliman” saya. Saya masih belajar untuk memilih Islam sebagai jalan saya. Ini adalah jalan yang saya ambil, dengan restu Tuhan Yang Maha Esa.

Terlahir sebagai Muslim dan sebagai seorang bangsa Indonesia, seharusnya saya dan kebanyakan bangsa Indonesia sadar dan paham betul akan pentingnya toleransi di negeri yang sangat majemuk ini. Toleransi antar umat beragama, toleransi antar suku bangsa, toleransi atas pikiran yang berbeda. Semua ini sebenarnya sudah terangkum dalam kurikulum pendidikan dasar di Indonesia. Tapi kemanakah praktek dari teori-teori yang seharusnya sudah mendarah daging? Adakah kita tuli ataukah kita apatis? Ketika golongan yang membawa nama Islam bergerak anarkis. Bukankah harusnya kita malu? Bukankah Agama menginginkan sebuah perdamaian?

Kemanakah arti kalimat Bhinneka Tunggal Ika Continue reading