Kami Prihatin

Presiden Joko Widodo melakukan kunjungan luar negeri yang pertamanya di tahun 2015, hanya selang beberapa hari setelah berakhirnya 100 hari pertama Kabinet Kerja. Malaysia mendapatkan kehormatan sebagai destinasi pertama adalah sahabat lama, negeri tetangga yang sering berada di love and hate relationship dengan negara kita. Sebuah negara yang jumlah Warga Negara Indonesia-nya lima kali lipat lebih banyak dibanding jumlah penduduk Jakarta Pusat. Negara penyumbang > 1.611 kasus permasalahan TKI yang meliputi kasus pelecehan seksual, KDRT, human trafficking, kekerasan dan pelbagai masalah lainnya.

 

Sebuah kesempatan yang sangat baik bagi masyarakat Indonesia yang berada di Malaysia untuk bertemu dengan Presiden barunya, Presiden yang menjanjikan revolusi di pelbagai bidang. Presiden yang membawakan harapan akan perubahan yang nyata. Kesempatan ini mungkin hanya terjadi satu periode sekali, maybe a few times if you’re lucky. Kesempatan untuk menyampaikan aspirasi secara langsung, tanpa perantara, kepada Presiden RI adalah sebuah kesempatan untuk berkontribusi dan mengambil andil dalam membentuk perubahan yang ia janjikan.

 

Namun, betapa kecewanya saya secara pribadi melihat kesempatan itu tidak dimanfaatkan dengan optimal oleh beberapa golongan. Contohnya seperti BP KNPI Malaysia, yang walaupun sempat melayangkan beberapa keprihatinannya mengenai beberapa isu-isu strategis mengenai Budi Gunawan maupun nasib TKI di perantauan. Tapi sayangnya, tidak ada satupun isu itu diangkat oleh BP KNPI Malaysia ketika pertemuan dengan Presiden Joko Widodo berlangsung. To be fair, salah satu poin yang diangkat adalah mengenai TKI, yaitu mengenai permasalah pernikahan tanpa dokumen bagi TKI di Malaysia. Tapi isu itu pun terlihat begitu minor apabila dibanding dengan permasalahan TKI yang lain seperti kekerasan, human trafficking, maupun pendidikan bagi anak TKI maupun TKI itu sendiri. Walaupun begitu, sebuah kredit harus diberikan kepada BP KNPI Malaysia atas kepedulian dan “keberhasilannya” dalam mengidentifikasi masalah krusial bagi TKI di Malaysia.

 

Hingga tulisan ini dibuat, belum ada informasi publik yang tersedia mengenai apa yang disampaikan oleh Perhimpunan Pelajar Indonesia se-Malaysia (PPIM), organisasi yang mewakili kurang lebih 11.000 suara mahasiswa Indonesia di Malaysia. Senada dengan BP KNPI Malaysia, PPIM pun terhitung cukup sering melayangkan keprihatinannya mengenai isu-isu strategis yang sedang berlangsung di dalam negeri maupun di Malaysia sendiri. Semoga ada lantunan aspirasi yang menyuarakan isu-isu yang dapat menyadarkan Presiden Joko Widodo bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang mesti ia dan seluruh timnya rampungkan.

 

Hingga suara itu terdengar, kita hanya bisa berdoa. Begitu pula jutaan TKI kita di Malaysia. Mereka berdoa.

 

Sincerely,

 

A concerned citizen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s