Sudah Bhinneka Tunggal Ika, kah?

Seingat saya, sang Garuda masih mencengkram erat slogan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika. Sepemahaman saya, negara Indonesia didirikan untuk melindungi semua rakyatnya, tanpa terkecuali. Indonesia bukan milik sekumpulan rakyat yang mengasosiasikan dirinya dengan identitas kolektif tertentu. Mungkin, mereka tidak memiliki frekuensi pemahaman yang sama dengan saya.

Marak pemberitaan mengenai penyerangan suatu golongan beragama oleh mereka yang “mengaku” beragama. Terakhir yang saya dengar, ini berlangsung di Sleman, Yogyakarta. Terlepas dari motif penyerangan tersebut, satu yang bisa dilihat jelas adalah kaum minoritas tidak mendapatkan rasa aman ketika melangsungkan ibadah menurut kepercayaan mereka. Mungkin, bagi golongan mayoritas, agama lain adalah agama kelas dua.

 

Keturunan etnis tertentu = Hina ?

Jangankan di tingkat grassroot, bahkan di tingkat atas pun penyebaran isu agama dan kebencian etnis adalah lumrah, bahkan dianggap perlu untuk pemenangan kandidat. Ini, bagi saya (meminjam salah satu kata yang dipopulerkan oleh Presiden kita) memprihatinkan. Masih banyak orang di Indonesia yang menganggap menjadi bagian daripada etnis tertentu adalah “dosa”. Terlalu pekat sentimen etnis dan agama yang dengan mudahnya memecah bangsa Indonesia. Apakah terlahir sebagai keturunan Tionghoa merupakan perbuatan hina? Rasanya tidak.

Sering kita dengar bahwa capres A merupakan keturunan Cina, capres B memiliki hubungan erat dengan nasrani. Sebenarnya, apa yang salah JIKA memang capres A keturunan Tionghoa? Apa yang salah JIKA tuduhan kepada capres B mengenai keluarganya adalah benar? Saya sendiri tidak ambil pusing mengenai itu semua. Saya tidak percaya dengan label bahwa anggota dari suatu Agama tertentu adalah selalu baik dan selain Agama tersebut adalah selalu buruk. Stereotip itu berbahaya, mengaburkan penilaian kita atas seseorang hanya karena identitas kolektif (agama, ras, bangsa, dsb) yang diasosiasikan dengannya. Yang mengganggu saya adalah realita akan laku nya isu-isu cetek ini, bahkan ketika isu nya jelas-jelas terlihat mengada-ada (contoh : JKW4P – Jesus Kristus Win 4 Peace). Goblok yang termakan isu murahan seperti itu.

 

Masyarakat Kelas Dua

Sampai kapan diskriminasi terhadap minoritas akan berlangsung di Bumi Pertiwi? Saya rasa, Indonesia masih perlu waktu. Waktu yang lama. Selama isu-isu yang dihembuskan oleh elit politik masih seputar isu cetek tidak berkualitas, selama itu pula negeri ini akan membenci “masyarakat kelas dua”. Mereka yang bukan bagian dari golongan mayoritas, akan selalu terpandang hina oleh mereka yang tidak paham.

Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah tujuan. Sayangnya, kita masih teramat jauh dari tujuan tersebut. Bangsa ini terlalu sibuk memuliakan dirinya dan golongannya. Mungkin, bangsa ini belum siap dengan toleransi. Bangsa ini masih angkuh untuk mengakui bahwa bukan hanya mayoritas yang berhak atas Indonesia.

Amerika Serikat, salah satu negara penganut sistem Demokrasi terlama di dunia ini, perlu lebih dari 200 tahun untuk memilih Presiden “berwarna” untuk pertama kali. Afro-american, senantiasa dianggap sebagai masyarakat kelas dua. Perjuangan bangsa afro-american di negeri Paman Sam bukanlah tanpa darah dan derita. Perubahan demi perubahan terjadi, hingga saat ini label “masyarakat kelas dua” perlahan mulai menghilang. Perubahan yang terjadi di AS adalah perubahan yang holistik. Perubahan yang didesak oleh masyarakat dan didorong dengan kebijakan-kebijakan di pemerintahan. Top-down approach yang dilakukan telah secara efektif membawa AS ke arah yang lebih baik.

Indonesia, menurut saya, pun membutuhkan suatu top-down approach. Yang sempat kita saksikan semasa Gus Dur menjadi Presiden. Walaupun beliau figur yang kontroversial, kebijakan Gus Dur banyak yang meninggikan derajat kehormatan golongan yang pada waktu itu adalah masyarakat kelas dua. Namun, batu pijakan yang diletakkan oleh Gus Dur harus dilanjutkan setapak demi setapak. Yang saya saksikan sekarang, dari tahun ke tahun, nampaknya kita mundur teratur. Entah perlu berapa ratus tahun sehingga kita melihat masyarakat Indonesia yang setara.

 

Demokrasi yang Matang

Saya muak dengan semua isu-isu agama yang bertebaran di media. Demokrasi bukan soal menjelek-jelekan lawan politik. Demokrasi bukan mengenai ketokohan palsu. Yang saya impikan adalah sebuah kontestasi ide yang lebih berbobot. Perdebatan yang membahas visi-misi mengenai ke mana Negara ini akan dibawa melaju oleh mereka yang mengaku memiliki kapasitas untuk memimpin 200juta lebih jiwa. Perang ide, bukan perang isu.

Mungkin, dalam 100 atau 200 tahun ke depan, Indonesia akan memiliki sebuah pentas politik yang lebih sehat. Sebuah pentas di mana battle of wit berlangsung. Semoga, kita tidak terlena dengan strategi-strategi sampah yang laku dijual kepada masyarakat. Demokrasi yang matang dimulai dari “well-informed society”. Bagi saya, merupakan kemustahilan untuk kita mencapai demokrasi yang matang tanpa masyarakat yang cerdas, yang memiliki kesadaran politik.

Penggunaan isu-isu agama bukan hanya menjatuhkan martabat korban, namun juga membodohi masyarakat. Isu murahan tidak berkualitas hanya akan membuat demokrasi di negara ini stagnan, bahkan mundur. Hasil dari isu-isu tersebut adalah masyarakat yang semakin bodoh, masyarakat yang mudah tersulut oleh kebencian etnis/agama tertentu. Masyarakat yang semakin intoleran terhadap satu sama lain. Mungkin, ini saatnya kita bertanya kepada diri kita masing-masing, are we going in the right direction? Menuju Bhinneka Tunggal Ika?

 

 

One thought on “Sudah Bhinneka Tunggal Ika, kah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s