Mengikuti Arus atau Menciptakan Arus?

Terkadang kita berada di sebuah kondisi di mana kita dihadapkan kepada dua pilihan yang sama-sama sulit. Terkadang, arus yang ada di sekitar kita jauh dari apa yang kita anggap ideal. Mengikuti arus bukanlah hal yang mudah, karena terkadang itu semua tidak sejalan dengan keinginan yang ada di hati. Namun, menciptakan arus, jelas jauh lebih sulit ketimbang pasrah.

Pilihan, tidak pernah mudah. Seandainya pilihan datang tanpa konsekuensi yang mengikuti, mungkin, semuanya akan terasa lebih ringan. Namun bukan itu makna dari sebuah pilihan. Sebuah pilihan memiliki harga yang harus dibayarkan. Desember tahun 2012, saya dipercaya untuk mengemban amanah sebagai pemimpin Persatuan Pelajar Indonesia di Universiti Malaya (PPI-UM), sampai sekarang, masih banyak yang mempertanyakan alasan kenapa saya berani maju dan memilih untuk mengambil risiko. Bukan, bukan karena saya ingin dipandang. Saya tidak peduli akan popularitas. Saya bekerja bukan untuk popularitas. Saya ingin menciptakan arus.

Menjadi pemimpin di organisasi bukanlah pilihan yang “murah”. Saya harus “membuang” kesempatan-kesempatan lain yang bisa membuat orang lebih memandang saya. Pahami lah, kalau saya mencari popularitas semata, bukan jalan ini yang akan saya tempuh. Saya memilih untuk membuang kesempatan untuk pergi ke India, Cina, bahkan benua Eropa. Saya relakan itu semua demi sebuah totalitas. Menyesal? Tidak. Karena saya dapat melihat arus yang saya ciptakan di sini, di PPI-UM. Bukan pilihan yang murah, apalagi mudah untuk saya melepaskan semua kesempatan itu.

Saya ingin menciptakan arus, ini semua berdasarkan kepedulian saya terhadap apa yang terjadi di sekitar saya. Saya percaya bahwa mahasiswa, apalagi yang tergabung dalam sebuah pergerakan mahasiswa itu harus sadar dan peduli terhadap masalah sosial yang ada di sekitarnya. Ini lah arus yang ingin saya ciptakan. Merupakan sebuah panggilan bagi saya untuk mengajak teman-teman di sekitar saya untuk peduli dan melek terhadap apa yang bisa kita lakukan untuk republik kita. Miris apabila mahasiswa dibalut rasa apatis.

Selama (hampir) setahun, saya mencoba menciptakan arus. Menyebarkan “virus” yang saya percaya. Mencoba mempengaruhi kepala demi kepala agar mereka juga merasakan dan bisa percaya terhadap cause yang saya percaya. Kenapa saya menciptakan arus? Karena saya sadar, beberapa tahun ke depan, kita lah yang akan diperlukan oleh negara untuk membuat Garuda tetap terbang tinggi di atas yang lainnya. Karena kontribusi, tidak seharusnya dibatasi oleh alasan geografis, apalagi umur. Kontribusi tidak mengenal dimensi.

Kita, jauh lebih beruntung daripada kebanyakan teman-teman kita. Kuliah di luar negeri merupakan sebuah luxury. Kemewahan yang tidak bisa didapatkan oleh sembarang orang. Pernahkah terbesit bahwa kita memiliki tanggung jawab yang lebih dibanding mereka yang tidak seberuntung kita?

‘With great power comes great responsibility’

Voltaire

-Bintang Pamungkas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s