Tuhan dan Kata

Aku ingin jadi Tuhan, menciptakan dunia dalam genggaman. Mengadakan yang tiada dan meniadakan yang ada. Menurutku, dengan kata, kita adalah Tuhan dalam tulisan kita sendiri. “Hidup ini tuh cuma permainan kata” ucap salah satu kawan dekatku. Perkataan yang nyeleneh tetapi sesungguhnya memiliki makna yang jauh lebih dalam dari apa yang terlihat.

Aku menemukan dunia di dalam 26 huruf ini.  Ketika mereka tersusun, menciptakan dan memperlihatkan apa yang ada di pikiranku. Ini adalah bentuk dari translasi pemikiran ke sesuatu yang “ada”.

Cogito, ergo sum. – Descrates

Aku berpikir, maka aku ada. Betulkah yang “mengadakan” kita hanyalah sebatas pemikiran? Adakah garis tipis yang memisahkan suatu eksistensi dari sebuah kenihilan adalah gelombang-gelombang yang dikirim dari sebongkah otak? Apakah penyebab keberadaan hanya terhenti sampai di situ?

Menulis. Bagiku, ini proses penciptaan dunia. Sakral. Menulis adalah mengubah konsep abstrak pemikiran terhadap suatu hal yang lebih nyata. Goresan tinta, goresan pensil di atas kertas, maupun hentakan jemari di atas keyboard. Proses “memberadakan” pemikiran. Menulis bukan sekedar pekerjaan sepuluh buah jari. Menulis adalah pekerjaan mata yang melihat, hati yang tergerak dan pikiran yang mengolah. Jari hanyalah wakil yang mengantarkan sinyal abstrak menjadi huruf-huruf yang siap dilahap oleh pembaca.

Orang boleh pandai setinggi langit. Tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dari masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.

– Pramoedya Ananta Toer-

Kata, mungkin salah satu kekuataan yang paling hebat yang Tuhan berikan kepada manusia. Lewat kata-kata Theodore Roosevelt membakar semangat patriotisme tentara Amerika di World War 1. Melalui kata, Martin Luther King Jr. berjuang untuk mendapatkan hak kesetaraan untuk orang-orang afro-american.  Melalui kata, Soe Hok Gie berjuang mengkritisi pemerintah yang dzalim pada zamannya. Melalui kata juga, Kitab Suci turun untuk menuntun umat manusia.

Tapi, melalui kata juga orang-orang rasis menghina ras yang dianggap inferor terhadap mereka. Melalui kata, pesan kebencian tersebar luas. Melalui kata, dunia ini bisa menuju kehancuran.

Pada akhirnya, aku percaya bahwa kata adalah sebuah kekuatan. Digunakan untuk kebaikan, atau keburukan? Itu semua terserah yang memilikinya. Menulis, adalah proses penggunaan kekuatan tersebut. Menulislah, ciptakan duniamu sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s