Mahasiswa dan Apatisme

Ketika saya masih SMA dulu ketika mendengar kata “Mahasiswa” yang terbayang adalah sebuah titel yang begitu prestigius. Bagaimana tidak? Saya beranjak remaja mendengar kisah-kisah Mahasiswa memaksa turun rezim Soeharto yang dinilai lalai, saya diceritakan kisah bagaimana mahasiswa memegang peranan penting dalam menentukan arah berjalannya negara Indonesia ini. Apa jadinya kalau titel ini sudah tidak begitu prestigius lagi? Dan hal itu bukan disebabkan oleh faktor eksternal, namun karena sikap dan tindakan para pemilik titel ini? Ketika mahasiswa apatis, ketika mahasiswa cuma belanja sana sini (hedon), masih pantaskah titel Mahasiswa dipandang sebegitu tingginya?

Apatis itu tragis, apalagi jika hal ini melanda mahasiswa. Ketika mahasiswa sudah apatis terhadap permasalahan di sekitarnya, hilanglah esensi akademisi yang seharusnya melekat erat di setiap mahasiswa. Mahasiswa akan menjadi sekedar titel tanpa isi, tak lebih dari mesin yang cuma bisa baca textbook dengan output Indeks Prestasi (IP) yang bisa dibanggakan. Semua cenderung menjadi trivial, ketika proses belajar tidak disertai dengan kepedulian terhadap permasalahan sekitar. Ilmu-ilmu yang didapat seharusnya bisa lebih berguna daripada sekedar mencari upah kerja nanti setelah lulus kuliah.

Kalau kita melihat sejarah, negara Indonesia berdiri karena ada rasa peduli dari berbagai kalangan. Kalangan muda dan tua, semua peduli atas penjajahan yang berlangsung di tanah Indonesia. Bung Karno, yang keturunan Raden, peduli dengan nasib saudara-saudaranya yang tertindas oleh penjajahan masa Belanda maupun Jepang. Banyak pejuang kemerdekaan datang dari keluarga yang mapan, bahkan bisa dibilang bangsawan. Apakah hidup mereka terpengaruh oleh penjajahan? Toh, mereka bangsawan kan? Hidup tetap enak, tetap bisa sekolah. Apa jadinya kalau mereka dulu apatis? Apa jadinya kalau mereka dulu tak acuh terhadap keadaan di sekitar mereka? Apa jadinya kalau mereka tidak bermimpi akan sebuah negara Indonesia yang berdiri sendiri, merdeka? Menjadi apatis tentu jauh lebih mudah bagi mereka, tetapi mereka memilih untuk peduli.

Kepedulian tidak hanya muncul dari mereka yang berada di dalam negeri. Bahkan mahasiswa yang berada di luar negeri memegang peranan penting dalam memerdekakan Indonesia. Indische Vereeniging atau biasa dikenal dengan Perhimpunan Hindia, yang kemudian diganti menjadi Perhimpunan Indonesia, merupakan perkumpulan pelajar dan mahasiswa yang berada di Belanda. Perhimpunan Indonesia (PI) ini lah yang menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia ingin dan layak untuk merdeka. Dari PI ini lahir pemikiran-pemikiran yang signifikan dan penting dalam memerdekakan Indonesia. Mereka berkontribusi besar untuk Indonesia. Siapakah mereka? Siapakah Bung Hatta? Siapakah Sutan Sjahrir? Siapakah Soewardi Soerjaningrat (Ki Hajar Dewantara)? Mereka waktu itu adalah pelajar atau mahasiswa, tidak beda jauh dengan kita. Mereka hidup dan belajar di Belanda, hampir sama sekali tidak terpengaruh dengan kondisi Indonesia pada waktu itu. Tapi apakah mereka tinggal diam? Tidak. Mereka bukan mahasiswa apatis. Mereka, sekali lagi, memilih untuk peduli.

Tentu, harus dimengerti bahwa menjadi apatis terkadang adalah suatu pilihan. Tapi saya memilih untuk (mencoba) peduli. Penulis mengajak pembaca (and of course mengingatkan diri sendiri) untuk membuka mata, hati dan telinga.Well, gak semua mahasiswa harus tiba-tiba jadi ngomongin politik, konflik, atau masalah negara yang berat lainnya juga sih. Tapi, setidaknya kita harus melek, aware terhadap masalah yang ada di sekitar, maupun di negara kita sendiri. Walaupun mungkin masih jauh dari “mampu untuk menyediakan solusi”, setidaknya kita tahu dan peduli atas masalah yang ada. Dan itu, lebih dari cukup. Anything but apathetic.

Mahasiswa harus melek. Setelah melek, baru bisa peduli. Ketika kita melek kita akan terpicu untuk peduli, karena kita akan tahu bahwa ada masalah, kita akan tahu bahwa ada orang-orang yang hidupnya tidak semulus atau semudah hidup kita. Kepedulian adalah yang menjadikan seorang mahasiswa berbeda dan berharga.

P.S : Tulisan ini merupakan sindiran untuk diri penulis sendiri. Penulis tidak berniat sok nasionalis atau sok kritis. Penulis hanya peduli, dan tidak mau apatis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s