Saya, Toleransi dan Fanatisme

Tulisan ini berdasarkan pengamatan dan pemikiran penulis, dengan segala keterbatasan.

Saya adalah bangsa Indonesia yang bangga akan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya bernaung dengan rasa aman di bawah slogan suci yang dicengkram erat oleh sang Garuda di kakinya, “Bhinneka Tunggal Ika”. Mengerti, menginterpretasi, memahami slogan suci Bhinneka Tunggal Ika bukanlah hal yang mudah. Dengan lebih dari 17.000 pulau dan lebih dari 1000 suku bangsa dan paling tidak 6 Agama yang diakui oleh pemerintah, bukanlah hal yang mudah untuk merealisasikan kalimat yang begitu luhur itu.

Saya seorang muslim sejak lahir, dan itu seharusnya tidak mengurangi “kemusliman” saya. Saya masih belajar untuk memilih Islam sebagai jalan saya. Ini adalah jalan yang saya ambil, dengan restu Tuhan Yang Maha Esa.

Terlahir sebagai Muslim dan sebagai seorang bangsa Indonesia, seharusnya saya dan kebanyakan bangsa Indonesia sadar dan paham betul akan pentingnya toleransi di negeri yang sangat majemuk ini. Toleransi antar umat beragama, toleransi antar suku bangsa, toleransi atas pikiran yang berbeda. Semua ini sebenarnya sudah terangkum dalam kurikulum pendidikan dasar di Indonesia. Tapi kemanakah praktek dari teori-teori yang seharusnya sudah mendarah daging? Adakah kita tuli ataukah kita apatis? Ketika golongan yang membawa nama Islam bergerak anarkis. Bukankah harusnya kita malu? Bukankah Agama menginginkan sebuah perdamaian?

Kemanakah arti kalimat Bhinneka Tunggal Ika Continue reading

Advertisements