Percuma Jadi Cahaya

Aku bergerak dengan kecepatan 60KM/jam dalam sebuah bis menuju Pulau Dewata untuk liburanku kali ini. Kedua mata ini menjadi saksi pohon-pohon yang bersaut-sautan tertiup angin malam, dedaunan berguguran menyentuh aspal yang kokoh, suara klakson dari bis yang hendak melaju, dan suara mesin yang berderu. Semua terasa biasa, kecuali sinar yang terpancarkan oleh bintang-bintang di langit gelap. Langit yang kelam terlihat sama dari tepi dunia manapun. Namun, apa yang terselip diantara helaian langitlah yang membuat pikiranku melayang. Pikiranku menerawang jauh lebih cepat daripada kecepatan bis yang sedang kutumpangi.

Seingatku, bintang yang biasa kulihat dari genteng rumahku tidak pernah sebegitu terang seperti apa yang mataku sedang alami sekarang ini. Aku rasa, ini karena di tempat ini daerah sekitar jauh lebih gelap daripada rumahku di Bogor. Di sini, entah di tepi mana dari pulau Jawa yang subur ini, cahaya dari bintang di langit begitu memukau dan mencerahkan sekitar. Kota-kota besar dengan angkuhnya seperti tak butuh lagi cahaya dari bintang maupun bulan pada saat malam datang, lampu-lampu jalan sudah siap untuk memenuhi kebutuhan cahaya di kota-kota itu.

Pikiranku terus menerawang, seakan bintang-bintang itu menyampaikan sebuah pesan. Cerahnya cahaya yang terpancarkan di tempat yang gelap gulita seperti ini membuatku berpikir.

Jikalau tiap manusia adalah bintang yang terangnya ditentukan oleh kualitas dirinya, maka kota-kota besar akan kepenuhan oleh manusia yang berpotensi “memancarkan cahaya” yang sangat terang. Maka, tanpa kita sadari, sudah terjadi konsentrasi “cahaya” di kota-kota besar. Di Indonesia sendiri ada begitu banyak daerah yang sangat minim “penerangan”. Jika Jakarta adalah tempat di mana bintang-bintang terang berkumpul, bukankah bintang-bintang yang sangat terang ini akan terlihat redup? Bukankah mereka lebih baik berada di tempat yang masih gelap? Sehingga cahaya mereka lebih berguna dan berarti, memberi “penerangan” di daerah-daerah yang kekurangan “cahaya”. Bukankah kita inginkan Indonesia yang menyala terang? Bukankah percuma jadi cahaya di tempat terang?

Sepanjang malam aku berkontemplasi. Jika aku berhasil menjadi bintang yang terang, mau dimanakah aku berada? Di tempat yang terlanjur terang atau tempat yang masih membutuhkan cahayaku?

2 thoughts on “Percuma Jadi Cahaya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s