Onto The Next Journey

Bergerak adalah kodrat manusia, senantiasa menuju ke arah yang baru. Perubahan, adalah sebuah konsekuensi dari pergerakan tersebut.

Hidup terdiri dari rangkaian kejadian-kejadian, menentukan nasib. Hari ini, satu rangkaian kejadian telah berhasil dilalui. Sepanjang perjalanan, aku mendapatkan kawan, sahabat, keluarga dan cinta.

Hari ini, aku bergerak menjauh dari sebuah keluarga.

Aku pergi.

Mendaki gunung yang lebih tinggi.

Untuk menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.

I’ll see you on top.

On Being Grateful

Count your blessings, they said.

Looking back, I have been blessed with a lot of happiness. Surrounded by people who care, having access to free education, opportunity to start my career as soon as I graduate. And I don’t think I have been grateful enough.

It is the basic nature of human, to always seek out for more, wanting to have more, sometimes beyond our own capability. Finding contentment is never easy.

Mr. Arwin Rasyid, CEO of CIMB Niaga, once told me that to have an ambition is one thing, and to be an ambitious man is another thing. There is a fine line between having an ambition and being ambitious. Being ambitious, he further explained, is dangerous as one might never be satisfied with what one has. An insatiable hunger for success, for victory, will only lead us to unfulfilled and colorless life.

The ability to be grateful is underrated. It is arguably one of the most important traits one should possess in order to live a peaceful life.

On Moving Back to Indonesia

I have been living in Indonesia for most of my life, I was born, nurtured, grown up in a place that I recognized as a home. There are countless problems and reasons to hate living in the country, but I learned to live with it. I learned to embrace the imperfections the nation possesses.

Four years ago, I was given a chance to study in Malaysia on a scholarship by CIMB Foundation. That was my first overseas exposure. I was not surprised to see that Malaysia is doing pretty much better than Indonesia, in a lot of aspects. For example, better public transportation, train system, considerably faster escalator, faster pedestrians, and of course, widely-available and reasonably fast internet connection. I enjoyed it, I was glad for not having to live with all the “helter-skelter” that occur on daily basis in some of Indonesia’s major cities. Back in 2010, riding economic-class train in Indonesia during rush hour was awful.

But then I realized that I took it for granted. Now that I have to re-adapt myself to Indonesia, I found myself more of a grouch. I complained about how the pedestrian moves in slow-mo, I fuss about how the escalator is moving at unacceptable speed and the fact that people do not give space for the escalator-walker at the right side, and how Indonesian abuse their car/motorcycle horn (they just honk at everything they see, at any occasion). And please do not let me start on the internet connection.

 

Events after events, there is a slow-building realization that (in some aspects) Indonesia is not at par with Malaysia, let alone Singapore for that matter. It is not an act of pessimism, Indonesia is still doing pretty good despite its countless problems and never-ending drama of the elite politicians. Being outside the country for years, I have gained a bird-eye view of the nation. Apple to apple comparison now is, arguably, more objective.

There are some adjustments I need to make, re-adapting to a known environment might be more challenging compared to adapting to a whole new place. Most importantly, there are some improvements and betterment I need to witness and create in Indonesia. It is, after all, the responsibility of the conscious minds to shape the surroundings.

On Graduation

IMG_20141012_181224

A soundtrack to this post

A transition is inevitable. Graduation is a form of transition. Marking the start of a new life, a fully-responsible adult. Besides everything, graduation is a celebration. A lavish one.

University for me, is a getaway. A way to postpone the “real life”, a recess. I think most people got it wrong. University shouldn’t be a place that prepare you for a career in the future. It may help, and it’s good, but it should not be the sole objective.

For that reason, I enjoyed university. I might enjoyed it a bit too much it has become a comfort zone that I need to get away from. The fact is, comfort zone is dangerous, as a comfort zone might be different with “safe zone”.

On Debate

One of the things that I really feel grateful is the fact that I joined the University of Malaya Debate Club, although for a short-term. I did not win any trophies, awards, or anything. In spite of the competitive spirit of varsity debate, I believe that it is not merely about winning. Shaping our mindset, broadening our perspectives are some of the lessons I have learned along the way. I learned that, the ability to see an issue from different perspective will help in constructing a more-balanced opinion.

I also learned that to speak up for 7 minutes, is a privilege. An expensive privilege.

On Indonesia

I am a proud Indonesian. Despite having hard times to justify my pride on Indonesia, I found that there is a hope, even the slightest, that will keep the dream alive. I did my part, by bringing out the potential of Indonesian Student Association in University of Malaya. Throughout the years, we are continuously growing and giving impact to people that we care about.

To think and share knowledge are the natural consequences of an enlightened mind.

CSIS Motto

Being a member of the “enlightened mind”, is a privilege followed by a direct natural consequences. We channel our belief through the social projects we initiated and contributed, PPWI Klang — A school for the stateless children, based in Klang. We practice freedom of speech via “Pemuda Bicara” — a program founded by Fajri Usman. We enchant people with Indonesian culture through ID Fest 2013. We promote unity in diversity through POSPIM 2013. We did it all together.

We even climbed a mountain.

Gunung Rajah

Graduation is, after all, a celebration. A celebration of accomplishments. A “Hurrah!” to every failures we experienced. A celebration of bravery, courageous act to take the next step forward. A way to remind yourself, that it is yet another beginning.

#30DaysChallenge

So I have decided to challenge myself. To be back into my writing habit.

I have decided that from today onwards, I will write a blog post, everyday for the next 30 days.

I will write about anything, maybe more on self-reflection, what I have learned during the day.

It might be a short post, it might be a long one. But I’ll keep on writing on daily basis.

It may be something similar with what Seth Godin is doing in his blog.

To write is to preserve experience and knowledge while sharing it to others.

In that spirit, I initiate this #30DaysChallenge

Sudah Bhinneka Tunggal Ika, kah?

Seingat saya, sang Garuda masih mencengkram erat slogan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika. Sepemahaman saya, negara Indonesia didirikan untuk melindungi semua rakyatnya, tanpa terkecuali. Indonesia bukan milik sekumpulan rakyat yang mengasosiasikan dirinya dengan identitas kolektif tertentu. Mungkin, mereka tidak memiliki frekuensi pemahaman yang sama dengan saya.

Marak pemberitaan mengenai penyerangan suatu golongan beragama oleh mereka yang “mengaku” beragama. Terakhir yang saya dengar, ini berlangsung di Sleman, Yogyakarta. Terlepas dari motif penyerangan tersebut, satu yang bisa dilihat jelas adalah kaum minoritas tidak mendapatkan rasa aman ketika melangsungkan ibadah menurut kepercayaan mereka. Mungkin, bagi golongan mayoritas, agama lain adalah agama kelas dua.

 

Keturunan etnis tertentu = Hina ?

Jangankan di tingkat grassroot, bahkan di tingkat atas pun penyebaran isu agama dan kebencian etnis adalah lumrah, bahkan dianggap perlu untuk pemenangan kandidat. Ini, bagi saya (meminjam salah satu kata yang dipopulerkan oleh Presiden kita) memprihatinkan. Masih banyak orang di Indonesia yang menganggap menjadi bagian daripada etnis tertentu adalah “dosa”. Terlalu pekat sentimen etnis dan agama yang dengan mudahnya memecah bangsa Indonesia. Apakah terlahir sebagai keturunan Tionghoa merupakan perbuatan hina? Rasanya tidak.

Sering kita dengar bahwa capres A merupakan keturunan Cina, capres B memiliki hubungan erat dengan nasrani. Sebenarnya, apa yang salah JIKA memang capres A keturunan Tionghoa? Apa yang salah JIKA tuduhan kepada capres B mengenai keluarganya adalah benar? Saya sendiri tidak ambil pusing mengenai itu semua. Saya tidak percaya dengan label bahwa anggota dari suatu Agama tertentu adalah selalu baik dan selain Agama tersebut adalah selalu buruk. Stereotip itu berbahaya, mengaburkan penilaian kita atas seseorang hanya karena identitas kolektif (agama, ras, bangsa, dsb) yang diasosiasikan dengannya. Yang mengganggu saya adalah realita akan laku nya isu-isu cetek ini, bahkan ketika isu nya jelas-jelas terlihat mengada-ada (contoh : JKW4P – Jesus Kristus Win 4 Peace). Goblok yang termakan isu murahan seperti itu.

 

Masyarakat Kelas Dua

Sampai kapan diskriminasi terhadap minoritas akan berlangsung di Bumi Pertiwi? Saya rasa, Indonesia masih perlu waktu. Waktu yang lama. Selama isu-isu yang dihembuskan oleh elit politik masih seputar isu cetek tidak berkualitas, selama itu pula negeri ini akan membenci “masyarakat kelas dua”. Mereka yang bukan bagian dari golongan mayoritas, akan selalu terpandang hina oleh mereka yang tidak paham.

Bhinneka Tunggal Ika adalah sebuah tujuan. Sayangnya, kita masih teramat jauh dari tujuan tersebut. Bangsa ini terlalu sibuk memuliakan dirinya dan golongannya. Mungkin, bangsa ini belum siap dengan toleransi. Bangsa ini masih angkuh untuk mengakui bahwa bukan hanya mayoritas yang berhak atas Indonesia.

Amerika Serikat, salah satu negara penganut sistem Demokrasi terlama di dunia ini, perlu lebih dari 200 tahun untuk memilih Presiden “berwarna” untuk pertama kali. Afro-american, senantiasa dianggap sebagai masyarakat kelas dua. Perjuangan bangsa afro-american di negeri Paman Sam bukanlah tanpa darah dan derita. Perubahan demi perubahan terjadi, hingga saat ini label “masyarakat kelas dua” perlahan mulai menghilang. Perubahan yang terjadi di AS adalah perubahan yang holistik. Perubahan yang didesak oleh masyarakat dan didorong dengan kebijakan-kebijakan di pemerintahan. Top-down approach yang dilakukan telah secara efektif membawa AS ke arah yang lebih baik.

Indonesia, menurut saya, pun membutuhkan suatu top-down approach. Yang sempat kita saksikan semasa Gus Dur menjadi Presiden. Walaupun beliau figur yang kontroversial, kebijakan Gus Dur banyak yang meninggikan derajat kehormatan golongan yang pada waktu itu adalah masyarakat kelas dua. Namun, batu pijakan yang diletakkan oleh Gus Dur harus dilanjutkan setapak demi setapak. Yang saya saksikan sekarang, dari tahun ke tahun, nampaknya kita mundur teratur. Entah perlu berapa ratus tahun sehingga kita melihat masyarakat Indonesia yang setara.

 

Demokrasi yang Matang

Saya muak dengan semua isu-isu agama yang bertebaran di media. Demokrasi bukan soal menjelek-jelekan lawan politik. Demokrasi bukan mengenai ketokohan palsu. Yang saya impikan adalah sebuah kontestasi ide yang lebih berbobot. Perdebatan yang membahas visi-misi mengenai ke mana Negara ini akan dibawa melaju oleh mereka yang mengaku memiliki kapasitas untuk memimpin 200juta lebih jiwa. Perang ide, bukan perang isu.

Mungkin, dalam 100 atau 200 tahun ke depan, Indonesia akan memiliki sebuah pentas politik yang lebih sehat. Sebuah pentas di mana battle of wit berlangsung. Semoga, kita tidak terlena dengan strategi-strategi sampah yang laku dijual kepada masyarakat. Demokrasi yang matang dimulai dari “well-informed society”. Bagi saya, merupakan kemustahilan untuk kita mencapai demokrasi yang matang tanpa masyarakat yang cerdas, yang memiliki kesadaran politik.

Penggunaan isu-isu agama bukan hanya menjatuhkan martabat korban, namun juga membodohi masyarakat. Isu murahan tidak berkualitas hanya akan membuat demokrasi di negara ini stagnan, bahkan mundur. Hasil dari isu-isu tersebut adalah masyarakat yang semakin bodoh, masyarakat yang mudah tersulut oleh kebencian etnis/agama tertentu. Masyarakat yang semakin intoleran terhadap satu sama lain. Mungkin, ini saatnya kita bertanya kepada diri kita masing-masing, are we going in the right direction? Menuju Bhinneka Tunggal Ika?

 

 

Tugas kita masih banyak, kawan.

Pengurus PPI-UM 2012-2013 dinyatakan demisioner terhitung 22 Desember 2013 yang lalu. Sebuah pencapaian bagi saya pribadi. Setahun memimpin PPI-UM telah memberikan banyak pelajaran untuk saya. Sebuah kesempatan langka untuk memimpin segelintir mahasiswa intelek yang luar biasa. Peran yang saya harus mainkan di PPI-UM juga bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Merupakan pengalaman pertama kali bagi saya untuk berada di posisi tertinggi dengan tanggung jawab yang menyeluruh. Saya sadar, sedari awal, bahwa perjalanan ini tidak akan mudah. Mudah bukanlah apa yang saya cari dari sebuah pengalaman.

Apa yang telah kita capai, kawan-kawan?

Lebih dari pengakuan publik. Lebih dari sekedar mengisi CV. Kita telah memenuhi salah satu tanggung jawab kita sebagai mahasiswa. Selama setahun ini, PPI-UM telah mencoba mensinergikan kemampuan seluruh anggota nya untuk memberi impak yang nyata untuk Indonesia. Memenuhi perannya sebagai duta budaya di luar negeri melalui ID Fest 2013, menyebarkan solidaritas tanpa batas melalui POSPIM 2013, dan mencerdaskan anak bangsa melalui Pusat Pedidikan Warga Negara Indonesia – Klang. Dan tentu, yang tak kalah penting, mengembangkan potensi mahasiswa Indonesia yang tergabung di PPI-UM.

Lalu, apakah kita pantas bangga dan merasa puas?

Kita patut bangga atas pencapaian kita bersama. Kita patut bangga bahwa kita mampu melunasi beberapa kewajiban kita sebagai mahasiswa. Namun, kita masih jauh dari pantas untuk merasa puas. Berbanggalah atas yang kita lakukan, namun kita pantas menunduk malu mengingat masih banyak yang bisa kita lakukan untuk Indonesia.

Menjadi organisasi kemahasiswaan di negeri jiran, seharusnya tidak mengkerdilkan peran kita dalam berkontribusi untuk bangsa dan negara. Malah, kita berada di posisi yang strategis yang tidak semua orang bisa rasakan. Di Malaysia, banyak yang bisa kita lakukan. Permasalahan TKI yang tiada kunjung usai, permasalahan stateless children yang tidak mendapatkan hak atas pendidikan, kesalahpahaman yang kerap terjadi antar dua negara. Masih banyak, tugas kita, kawan. Jangan mengkerdilkan peran organisasi kita yang besar ini. Bekerja lah untuk Indonesia, di mana pun kita berada. Karena nasionalisme bukan masalah posisi geografis. Jadilah diaspora Indonesia yang dekat dengan semangat ke-Indonesia-an. Semoga PPI-UM menjadi organisasi yang bermanfaat, bukan hanya untuk anggota dan pengurusnya saja. Semoga PPI-UM bisa terus berkarya nyata untuk Indonesia.

Tugas kita masih banyak, kawan.

Bintang Pamungkas
Anggota PPI-UM